Profile

Join date: Oct 28, 2022

About

Mengenali Daya tarik Museum Pencahayaan



Matahari pagi mulai menyingsing pada minggu pagi tanggal 19 Desember 2021, waktu memperlihatkan jam 05:30 WIB. Saya juga bangun dan bersiap-sedia untuk berkunjung salah satunya museum di Taman Mini Indonesia Cantik (TMII) yakni Museum Pencahayaan. Untuk perjalanan ke situ saya memakai angkutan umum TransJakarta dari halte Raden Inten ke arah halte TMII.


Jalanan di Ibu Kota cukup lancar dan sepi, warga tidak mengawali kegiatan seperti dalam hari Senin sampai Jumat. Rasa mengantuk masih menyelimutinya raga ini dan pada akhirnya memutuskan untuk pejamkan mata sesaat, akibatnya karena tidur barusan nyaris terlewatkan untuk transit di halte Daerah Melayu ke arah Serasi. Akhirnya nyaris ketinggalan bis dan untungnya sempat melafalkanrnya.


https://www.javatravel.net/history mengarahkan sesampai di Halte Serasi saya segera menanti bis langsung ke TMII. Selang waktu 10 menit bis juga datang dan saya meneruskan perjalanan dengan sedikit tertidur dalam bis. 25 menit berakhir, saya telah datang di TMII dan cukup kaget jika banyak pula pengunjung yang pagi-pagi telah banyak yang datang untuk berekreasi di situ.


Saya segera ke arah loket di gerbang pertama untuk bayar ticket masuk sejumlah 25 ribu rupiah. Dalam tangani wabah Covid-19 prosedur kesehatan di TMII benar-benar lah baik. Mereka telah memberikan fasilitas dengan barcode perduli jagalah, pengujian temperatur dan sediakan hand sanitizer ada selalu anjuran selalu untuk menggunakan masker. Lingkungan di Taman Mini Indonesia Cantik cukup sejuk karena banyak beberapa pohon di tempat itu. Situasi lumayan ramai di penuhi pelancong dari beragam wilayah.


Setelah bayar dan penuhi prosedur kesehatan yang ada saya segera melangkah kaki untuk cari letak Museum pencahayaan melalui peta besar yang terpajang di dekat loket. Dengan ikuti instruksi yang pada akhirnya datang di Museum Pencahayaan. Sesampai di situ saya segera disongsong oleh tugu yang menyokong simbol pencahayaan "Api Yang Tidak Segera Padam" dikitari oleh lima patung juru penerang dan air mancur.


Susunan bangunan itu berwujud sisi lima yang menyimbolkan Pancasila dan lima elemen pencahayaan. Untuk masuk tempat museum ini wajib melakukan scan barcode perduli jagalah lebih dulu dan menggunakan masker untuk jaga prosedur kesehatan. Saya lantas disongsong oleh petugas sekitaran dan langsung dituntun oleh tur guide namanya Wildan, Dean dan Nico.


Di awal dari menelusuri isi pada Museum Pencahayaan ini mereka menerangkan stasiun radio pertama di Indonesia yakni RRI yang awalnya punya Jepang namanya Domei. Beliau menerangkan pertama kali tehnologi radio itu dibawa oleh belanda dan lalu belanda dan jepang membuat stasiun radio di Indonesia. Radio ini berperanan penting untuk umumkan kemerdekaan Indonesia. Selainnya radio informasi kemerdekaan Indonesia ditebarluaskan lewat media massa dan isi pada media massa itu disamakan dalam bahasa wilayah masing-masing agar dapat dipahami oleh beberapa orang.


Seterusnya saya dituntun ke riwayat pertama kali ada tv di Indonesia. Berawal di tahun 1962 indonesia diberi keyakinan menjadi tuan-rumah Asian Game keempat. Di tahun itu stadion Gelanggang olahraga Bung Karno dibikin dan di tahun yang serupa berdiri stasiun tv pertama yakni Tv Republik Indonesia (TVRI) atas perintah Soekarno.


Lalu Soekarno memerintah untuk membagi tv ke setiap wilayah lewat departemen pencahayaan dengan arah supaya warga dapat melihat Asian Games dan seiring waktu berjalan tv di Indonesia mulai munculkan beberapa program yang lain seperti "Dunia Dalam Informasi". Program itu sangat fantastis dalam masyarakat dan mempunyai peringkat yang tinggi hal tersebut dikarenakan oleh mempunyai info yang berbagai macam seperti sekitar Indonesia, luar negeri, kulineran, olahraga dan sebagainya.


Di selang keterangan di situ ada camera yang besar sekali. Menurut riset yang sudah dilakukan oleh Museum Pencahayaan, camera itu dioperasionalkan oleh 2 orang dan ditolong lighting yang besar sekali. Seterusnya ditujukan ke program anak sulung di Indonesia Yakni Sang Unyil yang dibuat oleh Drs. Suyadi. Di ruang ini terpajang semua watak asli bikinan dari bapak Suyadi. Beliau memberi pesan saat sebelum wafat untuk memercayakan beberapa karya asli dari Sang Unyil pada pihak Museum Pencahayaan.


Seterusnya Wildan menerangkan mengenai film pertama Indonesia Darah dan Doa pada 30 Maret 1950 yang dikerjakan oleh bapak Usmar Ismail dan beliau dikukuhkan sebagai bapak film Indonesia. Maka dari itu tiap tanggal 30 Maret ialah hari film Indonesia.


Lanjut ke mesin bikin pertama untuk cetak koran-koran di Indonesia. "Besar sekali" ialah kata pertama kali yang berada di pikiran diri sesudah menyaksikan mesin bikin itu. Proses dalam mencetaknya sangat sulit sekali. Di sana ada meja opmak dan lurusan kalimat untuk diciptakan. Sesudah membuat kalimat dengan lurusan tersebut lantas dikasih tinta dan kertas lalu didesak dan akhirnya terciptalah media massa. Jaman dulu media massa/koran tidak keluar sehari sekali tetapi dapat sampai satu minggu lebih, tercepat tiga hari proses sampai diedarkan.


Sesudah menyaksikan warisan-peninggalan riwayat yang ada di Museum Lubang Buaya Jakarta ini mulai ingin tahu apa yang telah ada di lantai dua tetapi mas Dean juga menerangkan jika di lantai dua masih dilaksanakan revitalisasi. Lalu apa yang berada di lantai dua? Ia menerangkan jika dalam lantai dua ada pemutaran dokumenter riwayat Pencahayaan Indonesia dan Augmented reality. Kedengar bagus sekali tetapi tidak bisa menikmatinya.


Usai telah perjalanan ini ke Museum Pencahayaan, otak ini seolah berisi sarat dengan penglihatan-pandangan baru berkenaan riwayat dimulai dari radio, tv, dan percetakan. Tidak berasa hari mulai siang, saya tinggalkan Museum Pencahayaan dengan pemikiran yang berisi kemudian saya cari makan untuk isi perut yang kosong. Kenyang telah perut ini waktunya untuk kembali lagi ke rumah dan kerjakan beberapa tugas yang telah menanti untuk dihimpun.

Claire Russell

More actions